Jumat, 28 April 2017
[Kis. 5:34-42; Mzm. 27:1,4,13-14; Yoh. 6:1-15]
DALAM KEPOLOSAN DAN
KELUGUAN, ANAK-ANAK MENGAJARI KITA UNTUK BERBAGI
Barangkali karena saya terlahir sebagai bungsu,
maka tidak pernah mengalami memiliki seorang adik. Ya, adik dalam arti yang
sesungguhnya, de facto dan de jure. Mungkin, karena itu pula lahir sebuah
kerinduan tentang seorang adik atau sosok anak kecil, yang biasanya selalu
minta perlindungan terhadap orang yang lebih tua, entah kakak atau orang
tuanya. Namun, yang menonjol dari diri seorang anak-anak adalah kepolosan,
kemurnian hati dan kelurusan pikirannya. Maka, anak-anak hampir tidak pernah
berbohong, dan selalu mau mengatakan apapun yang ia lihat dan dengar. Kadang,
anak-anak karena keluguannya, mengajari kita untuk melakukan sesuatu yang baik,
manakala ada sesuatu yang tidak beres, atau membutuhkan pertolongan.
Dalam Injil hari ini, ketika Yesus memberi makan
lima ribu orang, sebenarnya tokoh utamanya adalah anak-anak yang pertama kali
bersedia memberikan lima roti dan dua ikannya untuk diserahkan kepada Andreas,
murid Yesus. Dalam benak saya, dalam rombongan orang yang mengikuti Yesus,
mereka pun membawa bekal berupa roti dan ikan, namun entah karena malu atau
masih mementingkan diri sendiri, maka mereka tidak mau mengeluarkan bekalnya
untuk dibagikan. Namun, Yesus ‘menggunakan’ anak ini, dalam keluguan dan kepolosannya,
untuk membuat banyak orang itu sadar untuk berbagi dan menyerahkan bekal yang dibawa,
untuk dikumpulkan, diberkati dan dibagikan. Kita pun terkadang demikian,
memiliki berkat yang melimpah, tapi menunggu untuk disadarkan dulu lewat
pengalaman atau teguran orang lain, baru kemudian bersedia berbagi kepada orang
lain. Semoga, kita senantiasa sadar, seperti anak kecil yang mau menyerahkan
lima roti dan dua ikannya, untuk berbagi, karena dengan berbagi-lah, kasih
Allah diwartakan kepada semakin banyak orang.
Selamat pagi, selamat berbagi kepada semua
orang. GBU.
#james5buceng2

