Sabtu, 4 Maret
2017
[Yes. 58:9b-14; Mzm. 86:1-2,3-4,5-6; Luk. 5:27-32]
MENGASIHI
SESAMA TANPA TERKECUALI
Salah satu hal yang paling saya sukai adalah
pergi ke toko buku, dan yang dilakukan di sana, entah sekedar membaca-baca atau
kalau tertarik, juga membeli buku-buku yang dibutuhkan. Sesuatu yang sederhana
namun sering terjadi adalah orang-orang yang sekedar membaca akan membuka
sampul atau pembungkus buku tersebut, membacanya sesuai kebutuhan dan
meninggalkannya di rak. Namun, misalkan buku dengan judul yang sama hendak
dibeli, maka akan memilih buku lain yang masih bersampul atau masih dibungkus.
Mungkin, secara psikologis, orang berpikir, bahwa buku yang masih bersampul itu
kualitasnya lebih baik, padahal, kecuali salah cetak, isinya kan sama saja.
Orang-orang bisa memberikan penilaian kualitas sebuah buku hanya dari plastik
pembungkusnya. Pun ini berlaku ketika menilai barang-barang lain, ketika barang
tersebut sudah ‘rusak’ atau cacat, maka nilainya bisa berkurang pula.
Yesus dalam bacaan Injil hari ini memberikan
cara pandang yang berbeda. Yesus memandang semua orang sama, bahkan mengangkat
seorang pendosa (Lewi) menjadi muridNya dalam sebuah kesempatan perjamuan
makan. Namun, yang Yesus lakukan ini justru menimbulkan protes orang-orang
Farisi, dan Yesus mengatakan bahwa Dia datang bukan memanggil orang benar,
namun juga orang berdosa, supaya mereka bertobat. Yesus memilih pendosa sebagai
muridNya untuk menunjukkan bahwa Dia pun mengasihi pendosa, artinya mengasihi
semua semua orang tanpa terkecuali. Maka, tidak pantas kalau kita sebagai
manusia memberi cap, penilaian negatif kepada orang-orang yang kita anggap
berdosa, karena yang lebih pantas memberi penilaian adalah Allah sendiri.
Justru kita diajak untuk senantiasa mengasihi setiap orang tanpa terkecuali,
karena kita adalah sama di hadapan Allah.
Selamat
pagi, selamat mengasihi setiap orang tanpa terkecuali. GBU.
#james5buceng2
