SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2020
“MENJADI KOMUNITAS
ALTERNATIF DENGAN MEWUJUDKAN KEADILAN SOSIAL”
(Disampaikan sebagai
pengganti khotbah, pada Perayaan Ekaristi Hari Sabtu/Minggu, 22/23 Februari
2020)
Para Ibu/Bapak,
Suster/Bruder/Frater Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam
Kristus
1. Pada hari Raya Penampakan
Tuhan awal bulan Januari yang lalu, kita memulai TAHUN KEADILAN SOSIAL dengan
semboyan “Amalkan Pancasila: Kita Adil, Bangsa Sejahtera”. Kita berharap agar
dengan menghayati Tahun Keadilan Sosial, kita umat Katolik Keuskupan Agung
Jakarta menanggapi amanat Gereja agar terus-menerus membarui diri. Adapun
dinamika pembaruan itu kita rangkum dalam semboyan “Semakin Beriman, Semakin
Bersaudara, Semakin Berbela Rasa”. Kata “semakin” mengungkapkan harapan kita
agar pembaruan itu tidak akan pernah berhenti. Pembaruan akan terjadi kalau
kita bersama-sama setiap kali mengajukan pertanyaan: ”Apa yang harus kita
lakukan, supaya lingkungan hidup kita menjadi semakin manusiawi?” Lingkungan
mempunyai arti yang sangat luas, seluas wilayah-wilayah hidup manusia baik pribadi
maupun bersama-sama, seperti wilayah sosial, ekonomi, politik, budaya,
pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, dan lain-lainnya. Ketika lingkungan
hidup kita menjadi semakin manusiawi, kita yakin bahwa Kerajaan Allah menjadi
semakin nyata pula. Atau dalam bahasa sehari-hari, keadaban publik semakin
terwujud, keadilan sosial dan cita-cita kemerdekaan Indonesia semakin menjadi
kenyataan pula.
2. Ketika kita menjalani
Tahun Keadilan, Tuhan menyediakan masa khusus bagi kita, yaitu masa Prapaskah.
Masa Prapaskah, yang akan dimahkotai dengan Hari Paskah, adalah masa yang penuh
rahmat untuk menjalankan pertobatan dan pembaruan hidup pribadi maupun hidup
bersama, untuk menemukan jalan-jalan kreatif mewujudkan keadilan. Sabda Tuhan
yang kita dengarkan pada hari ini (Mat 5:38-48) mengajak kita untuk membangun hidup kita bersama sebagai
murid-murid Yesus menjadi komunitas alternatif atau juga disebut komunitas
kontras, yakni komunitas atau hidup bersama yang dijiwai dan dibentuk oleh
nilai-nilai Injil yang berbeda dibandingkan dengan nilai-nilai yang biasanya
dianut oleh (dalam tanda petik) “dunia”. Kontras-kontras itulah yang terungkap
dalam pengajaran Yesus itu. Yesus mengatakan: “Kamu telah mendengarkan firman
‘Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu’. Aku berkata kepadamu
‘Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu ...
Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah
pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada
saudaramu saja, apakah lebihnya dari perbuatan orang lain? Bukankah orang yang
tak mengenal Allah pun berbuat demikian?” (Mat 5:46-47). Ucapan yang pertama
mencerminkan hidup yang biasa, pada umumnya. Sedangkan ucapan kedua
mengungkapkan hidup yang dijiwai nilai-nilai yang lain, yang lebih daripada
yang biasanya, karena dijiwai oleh nilai-nilai kristiani, yaitu nilai-nilai
kasih. Perenungan lebih jauh akan semakin meyakinkan kita bahwa kita dipanggil
untuk mengembangkan komunitas alternatif atau komunitas kontras itu.
Saudari dan Saudara
sekalian,
3. Kutipan Injil ini (Mat
5:38-48) adalah bagian dari Injil Matius 5-7 yang biasa disebut Khotbah Di
Bukit. Bagi pembaca atau pendengar yang akrab dengan bahasa Kitab Suci, bukit
atau gunung tempat Yesus menyampaikan pengajaran- Nya ini pasti mengingatkan mereka
akan gunung Sinai. Gunung Sinai adalah tempat Allah memberikan kesepuluh
perintah-Nya kepada Musa. Pesan utama kutipan Injil tersebut, seperti halnya
Musa memimpin umat Allah Perjanjian Lama keluar dari tanah perbudakan menuju
tanah terjanji, Yesus adalah Musa Baru yang membebaskan manusia dari perbudakan
dosa dan memberikan kepada mereka kemerdekaan sejati anak-anak Allah. Dan
seperti halnya Allah memberikan hukum dan tuntutan moral berupa Sepuluh
Perintah di Gunung Sinai, Yesus memberikan perintah KASIH : mengasihi Allah
dalam diri sesama (Mat 25:31-46), bahkan mengasihi musuh (Mat 5:44). Semuanya
ini terjadi agar umat Allah menjadi “kudus” (Im 19:1) dan “sempurna sebagaimana
Bapa di surga sempurna adanya” (Mat 5:48).
3.1. Sebelum peristiwa
Sinai, Umat Allah Perjanjian Lama adalah bangsa yang hidup sebagai budak di
negeri asing. Tetapi Allah tidak membiarkan umat-Nya hidup dalam perbudakan.
Dengan mengutus Musa sebagai pemimpin, Allah membebaskan umat-Nya keluar dari
tanah perbudakan untuk dibawa ke tanah terjanji. Dalam perjalanan menuju tanah
terjanji itulah Allah memberikan hukum-hukum-Nya, berupa sepuluh perintah
Allah. Harapannya, dengan berpegang pada hukum-hukum, yang tidak dipunyai
bangsa lain, umat Allah akan bertumbuh menjadi bangsa yang besar, yang
menghidupi nilai-nilai moral yang berbeda dibandingkan dengan yang dihidupi
bangsa-bangsa lain. Di tengah-tengah bangsa itu “kasih dan kesetiaan akan
bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm 85:11). Dengan
hidup seperti itu mereka akan tampil sebagai bangsa yang “kudus” (Im 19:1)
dengan menjalankan perintah Tuhan untuk mengasihi sesama manusia seperti diri
sendiri” (Im 19:18). Dengan cara itu mereka juga akan menjadi “terang” bagi
bangsa-bangsa lain seperti dikatakan nabi Yesaya: ”Aku telah memanggil ... dan
membentuk engkau menjadi terang untuk bangsa-bangsa” (Yes 42:6).
3.2. Namun ternyata ketika
bangsa itu menjadi semakin sejahtera, mereka lupa akan panggilan untuk hidup
secara berbeda. Mereka dipanggil untuk hidup secara berbeda, tetapi mereka
ingin hidup seperti yang lain. Kepada pemimpin mereka, mereka mengatakan,
“Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau, maka angkatlah
sekarang seorang raja atas kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain” (1 Sam
8:5). Dalam bahasa Kitab Suci permintaan itu sama artinya dengan tidak
menghendaki Allah lagi (1 Sam 8:7-10). Memang mereka akhirnya diberi raja.
Namun setelah mencapai puncak kejayaan di jaman Raja Daud, sejarah umat Allah
Perjanjian Lama menjadi sejarah kemerosotan dan kehancuran karena tidak
menjalankan keadilan dan kebenaran.
3.3. Pada jaman itulah Tuhan
mengutus nabi-nabi-Nya. Seorang nabi adalah pribadi yang setia pada hukum Allah
dan peka terhadap situasi jaman. Mereka menyuarakan keadilan dan kebenaran yang
merupakan pesan Tuhan kepada umat-Nya. Salah seorang nabi yang amat keras
melawan ketidakadilan dan ibadah palsu adalah Amos: “Aku membenci, aku
menghinakan perayaanmu ... tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air
dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” (Amos 5:21-17)
Saudari dan Saudara
sekalian,
4. Sabda Yesus yang kita
dengarkan pada hari ini, yang merupakan bagian dari Khotbah Yesus Di Bukit,
dapat pula dipahami dalam garis yang sama: kita telah dibebaskan dari perbudakan
dosa dan dipanggil untuk “menjadi sempurna sebagaimana Bapa yang di surga
sempurna” (Mat 5:48). Seperti halnya umat Allah Perjanjian Lama diberi Sepuluh
Perintah agar menjadi bangsa yang kudus, demikian pula kita diberi hukum KASIH.
Dengan hukum kasih itu – dan karena Roh Allah diam di dalam diri kita (1 Kor
3:16)- kita bersama-sama dipimpin menuju kesempurnaan hidup, dengan membangun
hidup bersama kita sebagai murid-murid Kristus menjadi komunitas-komunitas
alternatif atau komunitas kontras.
5. Saya ingin mengakhiri
renungan Prapaskah ini dengan mengutip bagian lagu yang sangat terkenal yang
berjudul “The Prayer”: “Tuhan, tunjukkanlah kepada kami jalan yang membawa kami
kepada-Mu .... Kami memimpikan suatu dunia tanpa kekerasan; dunia yang berkeadilan
dan berpengharapan. Biarlah setiap orang mengulurkan tangan kepada sesamanya,
tanda damai dan persaudaraan”. Marilah kita bangun hidup bersama kita dalam
keluarga, lingkungan, komunitas kategorial, paroki, dan keuskupan menjadi
komunitas alternatif atau komunitas kontras dengan saling menghargai, saling
menerima dan saling mengakui serta terus berusaha mencari jalan-jalan baru
untuk mewujudkan keadilan dalam segala kekayaan maknanya, termasuk keadilan
untuk seluruh alam ciptaan. Semoga dengan demikian, hidup bersama kita dalam
keluarga, lingkungan, komunitas kategorial, paroki, dan keuskupan dapat menjadi
suara hati bagi lingkungan hidup kita. Selamat memasuki masa Prapaskah. Terima
kasih untuk berbagai keterlibatan para Ibu/ Bapak/ Suster/ Bruder/ Frater, kaum
muda, remaja dan anak-anak sekalian dalam usaha menjadikan Keuskupan Agung
Jakarta semakin beriman, semakin bersaudara, dan semakin berbela rasa. Salam
dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.
† Ignatius Kardinal Suharyo -
Uskup Keuskupan Agung Jakarta
