Di rumahnya di Nogotirto,
Yogyakarta, guru bangsa Buya Syafii Maarif menyebut Uskup Agung Jakarta Mgr
Ignatius Suharyo sebagai priayi Yogya yang berperasaan halus. Mengkritik pun,
katanya, dengan cara dan bahasa yang halus. Suka menolong orang yang mengalami
kesulitan. Tulus.
Dalam testimoni pendek di sampul
belakang buku ini, Buya bersaksi tentang pria asal Sedayu, Bantul, itu. “Suatu
hari kami dalam satu pesawat dari Jakarta ke Yogya. Saya kaget ketika Monsinyur
Haryo dalam kedudukan yang sangat tinggi sekali itu spontan menolong seorang
wanita, mungkin TKW yang mau pulang kampung, yang kesulitan menaruh kopernya
yang sangat berat itu,” kata mantan Ketua PP Muhammadiyah ini.
Kesederhanaan dan kerendahan hati
melekat pada diri Mgr Suharyo. Ia sederhana dalam penampilan, tutur kata, dan
dalam puluhan karya tulisnya. Ia pun akrab dengan orang-orang sederhana dan
rendah hati kepada siapa pun. Bab satu buku ini merinci bagaimana kerendahan
hati dan kesederhanaan itu terbawa dan terpupuk sejak kecil. Salah satu orang
sederhana yang paling dia perhatikan adalah Leo, sopir pribadinya. Berkunjung
ke mana pun, ketika tiba jam makan, orang pertama yang dia ingat dan diajak
makan adalah Leo.
Ketika mengajar atau berkhotbah,
Mgr Suharyo yang juga Ketua Konferensi Waligereja Indonesia sejak 2012 itu
tidak njelimet. Begitu diakui seniornya, Kardinal Julius Darmaatmadja SJ dalam
sambutan buku. Mendalam, rendah hati, terus menjadi (hal xv-xxiv). Menyampaikan
hal-hal yang sulit, tetapi karena telah dicerna dengan baik, apa yang
disampaikan menjadi gampang dipahami.
Kajian mendalam tentang
kegembalaan Mgr Suharyo sebagai Uskup Agung di Semarang (1997-2010) yang
dilakukan Romo Y Gunawan Pr menegaskan tentang kesederhanaan, kerendahan hati,
dan kedalaman sosok beliau. Hal yang sama tentu bisa dilakukan dalam perutusan
Mgr Suharyo sebagai Uskup Agung Jakarta (2010-) maupun 3,5 tahun (2010-2014)
merangkap Administrator Apostolik Keuskupan Bandung (hal 160-163). Buku ini
sekaligus buku biografi intelektual atau biografi kegembalaan Mgr Suharyo.
Kekagumannya pada karya-karya
rohani Henri Nouwen membawanya sebagai orang pertama yang menerjemahkan ke
bahasa Indonesia buku-buku pastor kelahiran Belanda itu (hal 175). Dari 40 buku
karya Nouwen yang sudah terbit, 30 di antaranya dia terjemahkan. Mgr Suharyo
menemukan kiat penggembalaan dari karya-karya Nouwen.
Doa Menjadi Gerakan
Tetap terkesan sederhana dan
rendah hati, doktor Teologi Biblis lulusan Universitas Urbaniana, Roma, Italia,
ini tidak pernah berhenti berpikir untuk menemukan cara-cara baru agar karya
pewartaannya bisa mengena dan tepat sasaran, baik untuk Gereja Katolik maupun
ke luar.
Judul buku Terima Kasih, Baik,
Lanjutkan! – kalimat dari Mgr Suharyo dari ucapan Kardinal Basil Hume (hal
145). Menurut Mgr Suharyo, kalimat itu bukan sindiran atau pelecehan jabatan
uskup. Di balik rangkaian tiga kata itu diandaikan satu pribadi yang matang dan
dewasa.
Salah satu kosakata yang sangat
akrab dalam pelayanan rohani Katolik adalah “pastoral”, penggembalaan. Namun
Mgr Suharyo merasa, kata pastoral kurang energik mengungkapkan maksud, terutama
jika berhadapan dengan pihak lain. Ia kemudian menemukan daya keberanian,
kesungguhan, langkah-langkah sistematis yang dituntut oleh realitas dalam kata
“strategi”. Ia merasakan, kata strategi lebih kuat mengungkapkan semangat yang
terkandung dalam kata pastoral terutama saat pelayanan dimaksudkan untuk kota
metropolitan dan bernuansa “ke luar”.
Pancasila dan Rosario Merah Putih
Dalam dan dengan daya “strategi”
ia membawa Gereja ke tengah masyarakat sebagai Gereja yang terlibat dan peduli
sesama manusia. Doa tidak selesai sebagai kekhusyukan pribadi maupun kelompok,
tetapi harus menjadi gerakan. Umat melibat dalam kehidupan masyarakat.
Keterlibatan ini digerakkan oleh iman untuk menghadirkan Kristus di
tengah-tengah masyarakat. Ia mengajak Gereja bergerak tidak hanya dalam
batas-batas organisasi gerejawi, tetapi melintasi batas. Dalam rumusan lain,
Paus Fransiskus mengatakan, “Gereja yang tidak keluar dari dirinya sendiri,
cepat atau lambat akan jatuh sakit karena udara pengap dalam ruangan yang
tertutup” (hal 222).
Mgr Ignatius Suharyo
Hardjoatmodjo lahir dari pasangan Florentinus Amir Hardjodisastra dan Theodora
Murni Hardjadisastra sebagai anak ke-7 dari 10 bersaudara di Sedayu, Bantul,
Yogyakarta, pada 7 Juli 1950.
Ia ditahbiskan sebagai Uskup pada
22 Agustus 1997 di Semarang, Jawa Tengah. Dengan demikian, pada 22 Agustus 2017
lalu ia genap 20 tahun menjadi uskup. Dalam rangka itulah buku ini ditulis.
Ketika ditahbiskan sebagai uskup (tahun 1997), ia memilih moto “Serviens Domino
Cum Omni Humilitate”, artinya “Aku Melayani Tuhan dengan Segala Rendah Hati”.
Salah satu persoalan yang
merisaukan hati Mgr Suharyo adalah makin rendahnya penghayatan orang terhadap
Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Atas kerisauannya itu ia
menggunakan jabatan perutusannya sebagai uskup untuk mengampanyekan Pancasila,
setidaknya kepada umat Katolik di wilayah yang ia pimpin. Baik saat memimpin
Keuskupan Agung Semarang (KAS) dan saat ini Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Ia
pun memasukkan Pancasila dalam Arah Dasar KAJ tahun 2016-2020.
Pancasila menjadi dasar pada
setiap kebijakan dan pewartaan yang disampaikan kepada umat Katolik di KAJ. Mgr
Suharyo berusaha “memviralkan” keutamaan yang pernah ditanamkan pendahulunya
yang juga adalah Pahlawan Nasional, Mgr Albertus Soegijapranata SJ, “Seratus
persen Katolik dan Seratus persen Indonesia”.
Dalam semangat yang sama, ia
mengajak umatnya untuk mengaktualkan penghayatan iman secara mendalam melalui
devosi Rosario Merah Putih bagi kemajuan, kesejahteraan, dan kedamaian bangsa
ini. Lalu, di tengah ingar-bingar politik Ibu Kota dan Indonesia yang acap
liar, ia dengan jelas mengingatkan bahwa pada hakikatnya politik itu untuk
kebaikan bersama atau bonum commune, bukan untuk kesenangan diri sendiri dan
kelompok.
Melalui biografi ini Mgr Suharyo
tidak sedang menyampaikan ajaran iman atau hal-hal dogmatis, tapi ia mengajak
siapa pun melalui peristiwa-peristiwa sederhana untuk setia pada kehidupan dan
sesama dan melanjutkannya dalam hidup bersama.
Jika buku ini akan dicetak ulang,
sejumlah salah ketik yang sangat mengganggu hendaknya mendapat perhatian serius
dari penerbit. Misalnya kata episkopat di halaman 226 seharusnya episkopal.
Penulis : EMANUEL DAPA LOPA,
wartawan dan penulis biografi.
Sumber : - https://kompas.id/baca/buku/2017/11/04/kerendahan-hati-dari-sedayu/

