Jumat, 30 Juni 2017
[Kej. 17:1,9-10,15-22; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mat. 8:1-4]
JIKA TUAN MAU, TUAN DAPAT MENTAHIRKAN
AKU!
Saya memiliki seorang
teman yang hobinya ‘nitip’. Kalau ada yang pergi ke luar asrama, dan kebetulan
searah atau satu tujuan dengan teman saya ini, dia akan menitipkan kebutuhan
yang sama. Namun, kadang yang tidak saya sukai adalah cara menitipnya dengan ‘memaksa’
dan kalau tidak dituruti, akan marah-marah. Batin saya: “Kenapa tidak berangkat
sendiri saja, daripada marah-marah?” Tipe orang ‘nitip’ itu bermacam-macam. Ada
orang yang ‘nitip’ untuk dibelikan sesuatu, namun tidak akan kecewa kalau
permintaannya tidak bisa dipenuhi. Ada orang yang ‘nitip’, tapi akan kecewa
bahkan marah-marah kalau permintaanya tidak terpenuhi. Ada orang yang ‘nitip’,
tapi kadang lupa berterima kasih. Dan, ada juga orang yang sengaja ‘nitip’,
supaya mendapatkan sesuatu. Tipe terakhir ini, biasanya yang suka berkata: “Jangan
lupa ya oleh-olehnya”, kalau ada orang yang bepergian, namun akan marah kalau ‘oleh-oleh’-nya
tidak terpenuhi. Singkatnya, jadi orang kok pamrih macam-macam, padahal tidak
modal sedikitpun.
Kita perlu belajar dari
orang yang sakit kusta, yang disembuhkan oleh Yesus pada hari ini. Orang kusta
itu berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuhan dapat mentahirkan aku.” Perkataan
orang kusta ini, kalau didengarkan baik-baik, akan ‘menampar’ orang yang suka ‘nitip-nitip’
di atas. Pertama, orang kusta ini sadar siapa dirinya dan siapa yang ada di
hadapannya, maka permintaannya pun tidak hendak memaksa Yesus untuk
melakukannya. Perkataan: “…jika tuan mau”, adalah ungkapan kerendahan hati,
bahwa tidak semua keinginan kita adalah keinginan Tuhan juga. Memang, meniru
kebiasaan orang yang suka ‘nitip’ di atas, kadang kita marah-marah dan kecewa,
kalau ‘titipan’ doa kita tidak terkabulkan segera oleh Tuhan, padahal
barangkali rencana Tuhan memanglah tidak demikian. Kemungkinannya, memang belum
saatnya, atau memang ‘titipan’ doa kita bukanlah jalan terbaik menurut kehendak
Tuhan. Maka, kita belajar untuk lapang dada, pasrah dan terbuka pada segala
kehendak Tuhan. Orang kusta itu akhirnya disembuhkan karena memiliki harapan
bahwa Tuhan senantiasa memberi yang terbaik untuk hidup kita. Semoga, kita
tidak bermental ‘nitip’ doa saja, kemudian marah dan kecewa kalau tidak
terkabulkan, namun juga belajar untuk pasrah pada setiap jalan yang disediakan
Tuhan untuk hidup kita.
Selamat pagi, selamat membangun
keterbukaan hati pada rencana-rencana Tuhan. GBU.
#james5buceng2

