Jumat, 10 Maret 2017
[Yeh. 18:21-28; Mzm. 130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8; Mat. 5:20-26]
SEMAKIN BERSAUDARA DENGAN
SESAMA
Sebagai sebuah info, kebiasaan untuk memasukkan
salam damai dalam Ekaristi sudah ada sejak masa-masa Gereja awal. Pada masa
itu, salam damai ini masih diletakkan sesudah liturgi sabda. Tujuannya adalah
untuk lebih mengungkapkan damai dan rekonsiliasi dalam hidup umat beriman
sebelum memasuki Liturgi Ekaristi. Gagasannya adalah dikaitkan dengan inti
bacaan hari ini: “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas
mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap
engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai
dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahan persembahan itu.”
Model salam damai seperti ini, masih dipertahankan dalam liturgi Gereja Timur. Kini,
dalam Liturgi Barat, semenjak Paus Gregorius Agung, salam damai diletakkan
setelah DSA, karena ingin mempersiapkan penerimaan komuni. Jadi, salam damai
bukan pertama-tama demi saling memaafkan, namun lebih mengungkapkan persekutuan
dan kesatuan hidup bersama dalam damai.
Melihat sejarah liturgi dan merenungkan bacaan
Injil hari ini, maka hendak semakin ditunjukkan bahwa hidup rohani dan hidup
duniawi bertalian erat. Saling mendasari dan saling meneguhkan. Beribadat itu
sesuatu yang baik, namun beribadat juga membutuhkan hati yang tulus, sehingga
perlu berdamai dengan saudara yang berselisih. Bagaimana mungkin, di dalam
doa-doa, kita mengungkapkan hal-hal yang baik dan indah, sedangkan dalam hidup
nyata, yang terjadi justru sebaliknya. Yesus mengajak kita untuk semakin rukun
dan bersaudara dengan orang-orang di sekitar kita, sehingga setiap lantunan dan
persembahan doa yang kita lambungkan bukan sesuatu yang omong kosong belaka,
namun karena kita pun menghayatinya dalam persaudaraan dengan sesama.
Selamat pagi, selamat bersaudara dengan sesama.
GBU.
#james5buceng2

